Kopi Subuh

"Bekerja itu bukan tentang uang.."

Tulis temanku di statusnya.  "Bekerja itu adalah eksistensi, sebuah cara untuk memaksimalkan kemampuan diri. Uang itu hanya dampak, bukan tujuan..."

Ia menyambung tulsannya. "Jika kita bekerja hanya supaya mendapat uang, maka kita akan terjebak di ruang2 sempit yang kita benci, rutinitas yang akan mengurung diri. Hasilnya, kita akan selalu mengeluh, terpenjara oleh perasaan ketidak-mampuan untuk merdeka. Mudah patah. Kita akan selalu memandang orang lain lebih tinggi dan kita adalah orang yang patut dikasihani..."

Secangkir kopi kucecap sambil meneruskan membaca tulisannya.

"Bekerja itu adalah kenikmatan. Pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi, bekerja itu adalah ibadah. Harus ada jiwa di dalamnya, sesuatu yang kita selalu tunggu untuk memulainya dan membuat diri ini senang. Waktu menjadi tidak terasa ketika melewatinya. Jika kesenangan yang terus kita bawa, maka masalah itu tidak pernah ada, yang tampak hanyalah solusi.."

Tersenyum aku membacanya.

"Bebaskan dirimu, hidup hanya sekali. Mulailah sesuatu yang menyenangkan dan bergeraklah keluar bertemu dengan banyak orang yang akan membangun pola pikirmu menjadi lebih luas. Pada tingkat yang lebih tinggi, kitalah yang harus menjadi inspirasi. Jangan sibuk mengagumi apa yg dilakukan orang tapi lupa akan diri sendiri.."

Kuseruput kembali kopi yang sudah dingin ini. Seruputan terakhir dan kubaca penutup tulisannya.

"Bekerja itu bukan tentang uang. Bekerja itu mencari nilai di dalam diri, bukan berapa angka yang harus kita raih.."

Those Words of Shit, From Cunts.


Recently, there are many people that candidating to be a House of Representatives member, or you can call it in Indonesian as 'DPR'. Besides that, many people also candidating to be Governor, Chief, or anything that related to the goverment. They're very different. Different people, different organization, different duty, etc. But they have a similarity, they are easily to give some promises to the people. Badly, when they get the position that they want, seems that they forget all of their promises. They do what they want. They do the corruption. They play with the girls, which you called them as whore. 

And many others, which are reflecting that the morality of Indonesian people (Goverment especially) is on the bad condition. I never said that i'm the good one. I realize that i like the others, i have some mistakes-also big mistakes. But while my 'good' is on, i just want to remind you, 
"Don't ever say the promises so easily". 

If you think that you can't fulfill your promise, you'd better keep your promise in silence. 
 
 
 
Ahmad Saval

Saya

Sebenarnya saya bimbang. Saya ini masuk kategori apa? Ada dengan seutuhnya, Ada dengan cela didalamnya, atau justru tiada mutlak? Sampai saat ini pertanyaan itu masih saya simpan, tak saya utarakan pada kedua telinga mereka, atau dalam kata lain, seseorangpun. Saya hanya mencoba menafsirkan setiap realita ini, dengan sepenuhnya mencoba berada di dalam diri sendiri, tak melirik pada orang lain, hingga nanti pada akhirnya saya akan tahu, kalau sebenarnya saya ini apa. Saya ini termasuk apa. Saya ini milik siapa. Dan saya ini siapa.
 
 
 Ahmad Saval

Bahagia ?

Bahagia? Ya, mereka boleh mendefinisikan dalam berbagai macam kata, bahasa, pemikiran, atau bahkan perbuatan. Banyak insan yang berpikir, "kebahagiaan adalah mendengarkan musik", "kebahagiaan adalah bermain gitar", "kebahagiaan adalah berkeliling dunia", mereka sah-sah saja berpikir atau mengatakan demikian. Tetapi alangkah baiknya manusia melihat pada tingkat kebahagiaan. Mungkin jika berbicara tentang "bermain gitar" atau "mendengarkan musik" yang dapat kita lakukan sehari-hari, sehingga (mungkin) setiap harinya kita bisa berbahagia karenanya. Nah kalau patokan kebahagiaan mereka terlalu tinggi dengan pengorbanan yang cukup besar pula semisal berkeliling dunia? Secara rutinitas sendiri, kebanyakan manusia zaman sekarang ini lebih bekerja di perkantoran, terikat dengan tugas menumpuk dan tanggungan kewajiban, sehingga jika mereka punya patokan kebahagiaan seperti yang diatas, mereka pun sulit mewujudkannya. Dan jika sulit mewujudkannya, mereka akan sulit untuk tersenyum bahagia. Hari-hari mereka akan penuh dengan 'rengutan' atau 'cacian'. 

Seharusnya kita selaku manusia sadar, bahwa kebahagiaan dapat kita buat dan bentuk sendiri..

Karena kebahagiaan adalah sikapku
Karena kebahagiaan adalah pemikiranku
Karena kebahagiaan adalah keputusanku
Karena kebahagiaan, adalah aku


Ahmad Saval

Paradox / Rasa

Aku belajar di sekolah. Aku melihat guru mengajar, mendengarkan, dan mencoba memahami. Aku pun paham, dan aku bersemangat belajar serta berucap dalam hati, "Aku ingin menjadi Dokter suatu saat nanti."
Pulang sekolah aku lupa akan hal itu.

Aku dengan sepedaku bergegas menuju sekolah, latihan silat. Aku jatuh, bangun, jatuh, bangun, luka. Seperti itu terus, seakan kontinuinitas yang rajin berlangsung. Akhir latihan, guruku memberikan wejangan dan saran. Semangatku membara, serta berucap dalam hati, "Aku ingin menjadi Pesilat yang handal !"
Latihan selanjutnya aku lupa akan ucapku.

Aku mengaktifkan laptop, lalu meng-doubleclick-an cursor pada salah satu media player untuk musik. Aku pun mendengarkan lagu-lagu keras. Aku pun terpana, dan berucap dalam hati, "Keren! Aku ingin jadi Screamer!"
Lalu akupun malas berlatih.

Aku sempat iseng menggambar. Sketching tepatnya. Terinspirasi dari gambar-gambar di devianArt, aku pun mencoba gambar, entah gambar apa itu. Aku pun keasyikan menggambar, dan berkata dalam hati, "Suatu saat nanti aku akan jadi Seniman"
Lalu gambarku salah, dan tak ada penghapus. Aku pun menjadi malas.

Aku punya gitar dan aku terkadang memainkannya. Yah, beberapa lagu aku lancar memainkannya. Temanku sempat memujiku. Akupun girang dalam hati, dan berbisik, "Keren kali ya kalau nanti jadi Gitaris!"
Temanku itu meminjam gitarku, dan dia lebih handal dariku. Aku merasa rendah diri.

Aku suka bersepeda, bersepeda motor maksudku. Dari mulai jalan-jalan sendiri sampai bersama teman, aku suka itu. Seringkali aku kebut-kebutan di jalanan. Adrenalinku memuncak, dan aku berkata, "Mantap bro, gue harus jadi pembalap nanti!"
Lalu kulihat motor yang lebih keren menyalipku. Aku pun segan dan enggan membalapnya. 


ahmad saval

Sweet As Revenge - My Sweet Lullaby (Cover)


Bad Time Report (Waktu)

STUCK IN TIME
 Mata ku terpejam. Dalam keterpejaman itu aku mandapati visual-visual yang indah. Bentuk-bentuk bergerak yang tidak ku temui di dunia mana pun. Bentuk-bentuk itu dapat aku raba, entah dengan apa. Mereka menyampaikan pesan. Pesan-pesan abstrak yang saat ini telah hilang maknanya. Ada juga warna-warna di luar kemampuan mata Warna-warna itu bisa aku dengar, entah dengan apa. Suaranya seperti rasa dingin dan hangat yang komposisinya tepat. Nyaman luar biasa. 
    Tapi semuanya berubah menjadi menyeramkan. Aku takut. Benar-benar takut. Tiba-tiba saja segala konsep hilang dari diriku. Aku kehilangan konsep hidup. "Apa itu hidup?" Aku kehilangan konsep mati. "Apa itu mati?" Aku kehilangan konsep ada "Apa itu ada?" Aku hanya sadar ketika semua hal hilang. I'm nothing but a consciousness. Yang aku sadari hanyalah kesadaran itu sendiri Yang aku miliki hanya kesadaran itu sendiri. Setengah mati aku berusaha menjaga kesadaran ku. Aku yakin (tidak, pikiran ku yang meyakinkan ku) jika kesadaran ku hilang maka ketika itu keberadaan ku ikut hilang. Maka aku terus bicara. Bicara tentang banyak hal, untuk menjaga kesadaran dan keberadaan ku.
    Pada kenyataannya aku memang sedang berbicara dengan seorang teman, tapi pikiran ku selalu mempertanyakan kenyataan itu. "Apakah aku sedang berbicara dengan teman ku?" atau "Apakah aku sedang berbicara sendiri?" atau "Apakah teman ku itu adalah realitas atau hanya halusinasi ku?" Sulit membedakan antara realitas dan halusinasi. Dan, lagi-lagi sesuatu dalam diriku membuat ku meragu "Apakah halusinasi itu, bukankah ia adalah realitas yang lebih luas?" Lalu aku benci sesuatu itu. "Benci? apa itu benci?". Fuck you.
      Puncaknya, aku seperti terjebak. Terjebak dalam waktu. Moment of eternity. Bagian ini yang paling aku benci dari trip fungi. Waktu seperti berhenti dan lupa caranya kembali berjalan. Pada bagian ini memory dalam otak ku seperti diperbaharui. Ingatan-ingatan yang mulai pudar dipertebal kembali. Mengingat sama seperti menonton sebuah video dalam kualitas HD. Semua begitu jelas dan nyata, saking jelasnya, aku jadi kesulitan menconvert ingatan-ingatan itu ke dalam kata-kata. Tapi bukan itu masalah besarnya. Mengingat adalah baik, bagi ku dan bagi banyak orang. Yang benar-benar salah adalah ketika aku kehilangan konsep "esok" dan "nanti". Waktu bagi ku seperti dibekukan. Ia berhenti ditempat yang tidak seharusnya. Aku tidak lagi punya konsep "masa depan". Tidak sedetik pun. Saat itu adalah sesuatu yang diam dan akan terus begitu. Aku hanya bisa mengingat yang lalu-lalu. Aku tidak punya harapan, tidak juga pengandaian. Waktu terhenti dan aku abadi dalam keterhentiannya itu. 
    
Jakarta, Sept 7th. Pukul: akhir waktu...


A. Saval